Minggu, 11 April 2021

Kultur Sekolah

 Kultur Sekolah

Sekolah selama ini telah dinilai sebagai lembaga pendidikan yang mapan dan mampu mencetak generasi yang akan menentukan masa depan bangsa. Sebagaimana diketahui, sekolah didefinisikan sebagai bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (Sunarto, 2004:76).

Proses dan aliran perubahan sosial dalam masyarakat membawa implikasi besar dalam dunia pendidikan. Hal ini karena keberhasilan pengembangan sektor pendidikan diyakini sebagai salah satu penentu kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga membawa misi kebajikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana konsep pendidikan Tamansiswa yang sistem digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Pendidikan yang tidak disadari oleh kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya (HB X, 2012).

Dalam konteks persekolahan (schooling), sekolah memiliki konsekuensi dan tantangan yang semakin berat, terkait dengan tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan layanan pendidikan yang seharusnya diberikan. Sekolah dipercaya sebagai institusi yang menjadi arena pengembangan aneka potensi dan kecerdasan majemuk siswa (multiple intelligences). Oleh karena itu, upaya perbaikan sekolah perlu didorong menjadi aktivitas yang melekat (embedded) dalam setiap gerak perubahan sekolah.

A. Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Kondisi ini adalah normal sebagaimana dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies: unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and geographic location”. 

Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial.Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.

Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).

Terdapat sejumlah pengertian tentang kultur sekolah, antara lain yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) berikut ini:

“School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and  stories that make up the persona of the school.  These unwritten expectation build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work” (Deal & Peterson, 2011)

Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. 

Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai: “School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel” (Schein, Deal & Peterson, 2002).

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. 

Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang dirimereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.

Dalam literatur sosiologi pendidikan, kebudayaan sekolah dimaknai sebagai: a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving, yaitu seperangkat keyakinan, nilai, dan tradisi, cara berpikir dan berperilaku yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya (Vembriarto, 1993). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material,  yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah. 

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999). 

Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), 

ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya.

B. Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.

Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c) nilai-nilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain : adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya.

Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. 

Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).

Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam  kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat merubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menghadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik  tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.

C. Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan Nilai (Vision and Values)

Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi sebagai berikut: “Vision as an ideal and unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.

Berdasarkan pengertian tersebut, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, q1986).

Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. 

Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

2. Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

3. Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan. 

4. Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

Selanjutnya disajikan sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

1. Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah). 

2. Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah).

3. Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

4. Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi).

5. Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).

6. Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

D. Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Kultur sekolah bukan sekedar kultur di sekolah.Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. Masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. 

Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1. Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanyaterkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya. 

2. Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3. Karakter

Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam,bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4. Kelestarian Lingkungan Hidup 

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan.Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

Demikian tadi sejumlah contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai karakteristik dan kreativitas masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidakada model tunggal. Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan yang relatifsama (universal), namun sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas (relatif) sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh institusi sekolah. Sub-kultur tersebut biasanya identik dengan kultur di masyarakat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki peluang untuk menjadi sekolah unggul, dengan keunggulan masing-masing yang khas. Setiap sekolah bahkandapat saling mengisi secara kolaboratif, bukannya bersaing secara kompetitif. Semua kembali kepada bagaimana dan kemana pimpinan sekolah akan membawa dan mengarahkan sekolahnya. Bukankah pimpinan sekolah memiliki peran sentral dalam membagikan nilai (shared values) dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah?

E. Penutup

Kultur sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible dan non- material yang intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. 

Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.Dalam pengembangan kultur sekolah, terdapat aneka pilihan alternatif yang dapat disesuaikan dengan visi-misi dan kondisi sekolah, serta profil siswa dalam aneka kecerdasan majemuk Sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang dimiliki, yang bisa jadi identik dengan kultur masyakarat yang lebih luas. Dengan adanya variasi tersebut, setiap sekolah memiliki peluang yang sama untuk membanggakan keunggulan sekolah masing-masing yang khas. Semua ini tergantung pada peran pimpinan sekolah yang dapat menggerakkan dan mengkomunikasikan visi-misi sekolah kepada seluruh warga sekolah.

Referensi : 

Efianingrum, Ariefa. _Kultur Sekolah_,  Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013


Minggu, 01 Desember 2019

Cerpen Nurhafiza

Si Pemalu yang Kurindu


8 Juli 2019 hari ini genap tiga tahun, sejak pengungkapan cintanya pada ku. Dia teman dari salah seorang temanku. Dia tidak ku impikan dan juga tidak ku kagumi. Setiap pesan yang masuk darinya aku balas seadanya. Tapi semua berubah semenjak dia sering menelponku hanya sekedar membicarakan hal-hal yang merutku tak penting. Tapi aku nyaman dan tanpa aku sadari rasa sayang itu perlahan tumbuh. 
Hari pertama aku bertemu dengannya ketika tes masuk SMA, dia satu sekolah dengan sahabat kecil ku Dio. Teman-teman ku bilang kalau cowok itu ganteng, cool keren dan blablabla hemm tapi  menurutku cowok itu b aja sih, masih standarlah gak ganteng -ganteng amat. 
Amara itu nama ku. Gadis yang tidak lagi mempercayai pria karena sering terluka. Dan dia Fadil, cowok yang membuat ku mimpi indah di setiap tidurku. Pagi itu di depan kelas ku dia mengatakan jika dia menyukai ku saat pertama kali kami berpapasan di teras kelas saat tes masuk SMA. Sangat mustahil bagi siapa saja yang mengalami kejadian sepertiku. Aku sama sekali tak mengenalnya , maksud ku aku hanya tau dia itu juga temannya Dio sahabatku. Bahkan aku juga belum tau namanya siapa.Akan tetapi, kemustahilan musnah apabila menjadi nyata.
Aku dan Fadil kini berpacaran. Entah mengapa waktu itu aku menerima cintanya, tapi dilihat dari mukanya kayaknya dia bukan cowok jahat deh, jadi aku memutuskan untuk menerimanya. Ya coba - cobalah lagian sekarang aku juga udah lama banget nggak deket sama cowok. Dan Dio juga cerita ke aku kalau si Fadil ini cowok yang sangat pemalu dia nggak pernah ngungkapin perasaan ke cewek, dia bilang kalau aku cewek pertama yang ditembak Fadil secara langsung. Tapi yang aku tau sekarang aku menyayanginya.
Beberapa bulan setelah kami berdua resmi pacaran pertengkaran terjadi antara kami berdua.“kita putus” Kata-kata itu keluar dari mulutnya. 
Aku yang baru saja menikmati indah hari bersamanya langsung terdiam mendengar kalimat itu.“kamu yang meyakinkanku tentang cinta setelah sekian lama aku diam dan memendam sakit hati, kamu yang buat aku keluar dari lubang masa lalu ku yang menyakitkan, kamu yang pernah bilang kamu yang akan menjagaku, tapi sekarang kamu yang menyakitiku dan membawaku ke lubang yang sama!” kata ku sambil menangis “ya aku pembohong, aku tak bisa tepati janji” jawabnya dengan nada tegas.Tuutt tuutt ttuutt telpon itu di putuskan olehnya. Berulang kali aku mencoba menghubunginya tapi ponselnya tak aktif. Aku hanya bisa menangis sendiri dalam kesakitanku.
Beberapa hari kemudian,
Ponselku berdering, aku lihat ternyata ada satu pesan masuk
“aku sayang kamu” isi pesan yang ternyata dikirim oleh Fadil
“apa maksud kamu?” balasan ku kirim
Beberapa saat kemudian ponselku berdering lagi, tanda ada balasan dari Fadil.
“aku masih sayang kamu”
Aku memilih diam dan tak membalas pesan itu.
Ponselku berdering lagi. Kulihat ada panggilan masuk dari Fadil, ku angkat telpon itu.
“lagi ngapain?” tanyanya
“baring-baring” jawabku singkat
“aku minta maaf ya, aku masih sayang kamu, kamu mau kembali lagi sama aku?” kata Fadil
“aku tak pernah menganggap kata-kata putus darimu” Ku jawab seperti itu karena aku masih sangat menyayanginya.
“makasih sayang, love u :*” jawab Fadil, aku bisa merasakan dia tersenyum bahagia.
“love u too sayang :*” jawabku
Hubungan kami tetap baik-baik saja, walaupun sempat ada masalah. Aku bahagia bisa bersamanya lagi.
Singkat cerita. Aku dan Fadil semakin sering terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran yang berawal dari masalah sepele. Terhitung dari satu bulan yang lalu sudah dua kali Fadil minta putus dan sekali minta break. Apa pun yang terjadi aku akan berusaha sebisaku untuk mempertahankan hubungan kami. Karena aku sangat menyayanginya.
Sekarang sudah tiga bulan aku menjalani hubungan dengannya.
Sampai pada malam itu cerita cinta kami masih berlanjut sampai tiba-tiba hal yang terburuk pun terjadi. Ya, pertengkaran lagi.“sudahlah aku mau tidur” bentak Fadil
Aku menghela nafas panjang “ya sudahlah” jawabku
Tuutt Fadil memutuskan sambungan telpon itu.
Keesokan harinya aku terus berusaha menghubungi Fadil. Tapi dia masih saja dingin terhadapku.
Iseng-iseng ku buka akun facebook miliknya. Tujuan utamaku adalah melihat pesan masuk. Ada satu pesan yang sangat menarik perhatianku, Pesan itu dari Tya teman Fadil waktu di SMP. Pesan itu masuk sekitar dua minggu yang lalu saat Fadil memutuskan untuk break denganku.
“kamu masih sama Amara” Tya memulai pesan
“masih, tapi lagi break” balasan dari Fadil
“kenapa?” Tanya Tya lagi
“bosan, aku dikekang terus” balasan dari Fadil
Membaca percakapan itu membuat hatiku merasakan sakit. Bukan karena pesan yang datang dari cewek lain, tapi karena isi pesannya yang membuatku benar-benar terdiam. “Apa iya aku mengekangnya? Aku tidak pernah melarang-larangnya” kataku dalam hati. Seharian aku memikirkan pesan itu. Tekat ku sudah bulat untuk pergi darinya jika dia menginginkan itu, tak akan ku pertahan kan lagi seperti biasa saat dia bilang putus. Aku tak ingin dia semakin tersiksa bersamaku, aku tak mau hanya aku yang bahagia, aku mencoba menahan keegoisanku agar dia tak lagi menderita.
Malam itu aku kembali menelpon Fadil. Ya dengan dinginya dia menyambut telpon ku. Bukanya memperbaiki suasana dia malah membuat suasana semakin panas.
“kita putus” katanya.
“ya, itu memang mau mu dari dulu. Ok kita putus, aku tau kamu bosan. Aku tak mau kamu tersiksa apabila terus bersamaku” aku mencoba menjawab dengan tenang.
“iya” jawabnya.
Deg!!! air mata mengucur deras di pipiku. Aku tak percaya dia menginjak-nginjak perasaanku.
“kamu tau gimana susahnya aku mempertahankan semua ini? Kamu tau bagaimana aku sekuat hati mencoba untuk sabar menghadapimu? Aku kecewa, aku benci kamu, aku benci kamu Fadil fine, makasih untuk semuanya karena kamu yang minta maka aku akan pergi” kataku sambil terisak.
Tuutt kali ini aku yang mematikan telpon itu. Aku hapus air mataku, aku harus kuat.
Tak pernah aku sesali mencintainya karena itulah pilihanku. Hmm kalau pun aku menyesal keadaan takkan berubah. Dia takkan kembali lagi padaku. Tetapi dilubuk hati yang terdalam aku sangat merindukannya. 
Darinya aku belajar kesetiaan, kepercayaan, dan kesabaran. Sekarang aku juga belajar keikhlasan. “Yang membuatmu patah hati sebenarnya bukan cinta,melainkan besarnya harapan yang kau pertaruhkan untuknya.”

Sabtu, 19 Oktober 2019

“Pontianak Creative & Culinary Festival 2019” Peluncuran Buku Bersama Penulis Kalimantan Barat


Nama    : Nurhafiza
Nim      : 11901338
Kelas    : PAI 1 E
“Pontianak Creative & Culinary Festival 2019”
Peluncuran Buku Bersama Penulis Kalimantan Barat
Rabu, 16 Oktober 2019 saya dan teman-teman sekelas mengikuti kegiatan literasi “Peluncuran Buku Bersama Penulis Kalimantan Barat” pada acara pembukaan “Pontianak Creative & Culinary Festival 2019” yang memperingati HUT kota Pontianak yang ke-248. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Pontianak. Kegiatan ini juga kami lakukan untuk mengganti mata kuliah bahasa indonesia. Acara Pontianak Creative & Culinary Festival 2019 diadakan di halaman parkiran Mega Mall Ayani. Acara dimulai pada jam 11 yang dibuka dengan perembahan musik dari SMAN 10 Kota Pontianak lalu kata sambutan dari ketua panitia ibu Emi Meliana. Dan banyak acara hiburan yang ditampilkan dari berbagai sekolah di Pontianak seperti Dance dari SMAN 10 Kota Pontianak, Vocal Solo oleh Sindy dari SMAN 10 Kota Pontianak. Lalu acara dilanjutkan dengan Launching Buku karya dari beberapa penulis yang ada di Kalimantan Barat, diantaranya:
1.       Ibu Eka Damayanti,dengan karyanya  “Tentang Cinta” dan “Hemoglobin Cinta”
2.       Ibu Tuti, dengan karyanya “Sekijo Fremia” dan “Perempuan Inspirasi”
3.       Ibu Ainun Bell, dengan karyanya “Pengundi Maut”, “Cinta Seorang Hacker”, “Kepak Sayap Kasih” dan “Seribu Warna Tentang Ayah”
4.       Ibu Dewi Karpita Sari, dengan karyanya “Antologi 120 Jam” dan “Antologi Journey Of Life”
5.       Ibu Ema Amalia Marantika, dengan karyanya “Belenggu Haru Bala Bejana”
6.       Ibu Eka Yulianti, dengan karyanya “Breakly Personality”
7.       Ibu Eka Pabetay, dengan karyanya “Rujak Cinta Ibu Peri” dan “Romansa Satu Atap”
8.       Ibu Dede Yeti Sumina, dengan karyanya “Senja Itu Magrib” dan “Kupu-kupu Coklat”
9.       Ibu Juniawati, dengan karyanya “Diary Makrempong” dan “Sistem Penyiaran di Indonesia”
Beberapa Penulis juga memberikan motivasi kepada pecinta literasi seperti yang disampaikan oleh Ibu Eka Damayanti “Seorang penulis yang baik itu adalah eorang pembaca yang baik” ia juga berkata “Jangan patah arah sebelum memulai, jangan hanya jadi konsumen, jangan hanya jadi penikmat saja, mari kita ambil bagian,jangan merasa cukup ebagai penikmat kita harus ambil bagian. Dan  Fastabiqul Khairat berlomba-lombalah dalam kebaikan”
Ibu Dede Yeti Suminar juga memberikan motivasi kepada kami “ Perbanyaklah membaca, buat sesuatu yang baru, dan lakukanlah dengan sungguh-sungguh” Ibu Dede juga mengatkan alasan dia menulis adalah menjadi teladan yang baik untuk muridnya, karena dia seorang guru dan guru itu menjadi panutan bagi murui-muridnya. Selanjutnya Ibu Dewi Kapitasari juga menyampaikan bahwa semua orang itu bisa menulis, lalu bagaimana cara menulis bagi pemula? Tips dari ibu Dewi adalah kita menulis apa yang pernah kita alami jadi kita bisa tau gimana jalan cerita nya, seperti yang ibu Dewi ceritakan bahwa dia menulis itu asal mula nya karena patah hati, teman-teman taulah kan kalau orang patah hati itu kata-katanya menyentuh semua haha. Lanjut yaa, ibu Dewi juga mengatakan “menulis itu berawal dari sebuah permasalahan yang susah diungkap” dan kata-kata ibu Dewi yang paling saya ingat yaitu “jatuh cinta dan patah hati tidak bisa dipisahkan”  . Selanjutnya Ibu Juniawati mengatakan kalau kita mau menulis jangan pikirkan hal lain, udah tulis aja  jadi untuk teman-teman yang udah baca ini ayo kita jadikan menulis itu suatu hal yang menyenangkan, kenapa karena kita semua itu bisa menulis dari pengalaman kita. Semanggaattttt ya
Diacara Peluncuran Buku Bersama Penulis Kalimantan Barat juga diisi dengan hiburan-hiburan yakni penampilan dari Nova SMK 5 Kota Pontianak yang menampilkan Tari Betang Panggong, kemudian pembacaan puisi oleh Nasya Putri dari SMAN 1 Kota Pontianak yang berjudul “Kepada Kawan” oleh Chairil Anwar, kemudian ada juga musikalisasi puisi oleh SMAN 1 Kota Pontianak yang berjudul “kata” puisi dari Suwardiyo Sastro Wardoyo. Selanjutnya pembacaan puisi oleh Putri dari SMAN 1 Kota Pontianak, dan acara diakhiri dengan pembacaan pidato oleh Aurelia Nutasuhud yang berjudul hormat kepada orang tua. Saya sangat menikmati acara ini dan menurut saya acara ini juga sangat bermanfaat apalagi bagi kita kaum muda, dan diacara ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa kita kaum muda perbanyaklah membaca karena dengan membaca kita bia menambah wawasan kita. Setelah membaca mulailah untuk menulis karena penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik 🙂 sekian dari saya terimakasih teman-teman yang udah baca blog saya semoga bermanfaat ya 🙂








Selasa, 08 Oktober 2019

Resume Sistematika Penulisan Skripsi Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pontianak


Nama: Nurhafiza
Kelas: Pendidikan Agama Islam 1 E
Makul: Bahasa Indonesia



Tugas Meresume
 Sistematika Penulisan Skripsi 
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam  
FakultasTarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak





1. SAMPUL



NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK
PADA KISAH UWAIS AL QARNI


SKRIPSI


Oleh:


UBAIDILLAH
NIM. 11511020




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONTIANAK
2019M/1440H






2. LEMBAR MOTTO



Motto:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Artinya: Sesungguhnya Aku (Rasulullah SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Baihaqi)



                          لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ 
Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal (Q.S Yusuf:111)


3. LEMBAR ABSTRAK


ABSTRAK


           UBAIDILLAH.1151020. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak pada Kisah Uwais Al Qarni. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2019.
Persoalan pendidikan akhlak hingga saat ini masih harus diutamakan, terlebih jika kita melihat kondisi akhlak umat akhir-akhir ini, saat ini umat Islam mengalami kemerosotan akhlak. Dalam islam pendidikan akhlak ini akan menjadi petunjuk hubungan manusia dengan manusia, maupun hubungan manusia dengan rabbnya, demikian juga sebaliknya pendidik mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan akhlak anak, baik pendidikan dirumah atau disekolah.
       Menyikapi fenomena tersebut salah satu cara yang tepat dalam pendidikan akhlak adalah melalui kisah. Pada penelitian ini peneliti mengambil judul Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak pada Kisah Uwais Al Qarni.
       Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keteladanan yang terdapat pada kisah Uwai Al Qarni dan menganalisis nilai-nilai pendidikan pada kisah Uwais Al Qarni.
       Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian perputakaan (Library Research). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (Content Analysis), teknik analisis menurut Miles and Huberman dan teknik analisis komparatif. 

           Hasil dari penelitian ini adalah pada kisah Uwais AlQarni terdapat beberapa keteladanan dan nilai pendidikan akhlak didalamnya, 1. kisah keteladanan Uwais Al Qarni yaitu kisah berbakti kepada ibunya, Uwais Al Qarni pergi ke Madinah, Uwais Al Qarni bertemu dengan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, Uwais Al Qarni wafat. 2. Nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam kisah Uwais Al Qarni adalah berbakti kepada orang tua, tawadhu, zuhud, sabar dan cinta Rasul.

Kata kunci  : Nilai-nilai, Pendidikan Akhlak, Ketetladanan, Kisah Uwais Al Qarni. 



4. DAFTAR ISI


DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN
PERSETUJUAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang
      B. Fokus Penelitian
      C. Tujuan Penelitian
      D. Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     A. Penelitian Terdahulu
     B. Kajian Teori
BAB III METODE PENELITIAN
     A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
     B. Sumber Data
     C. Teknik Pengumpulan Data
     D. Teknik Analisis Data
BAB IV PAPARAN  DAN ANALISIS DATA
     A. Paparan Data
     B. Pembahasan Nilai-Nilai PendidikanAkhlak Pada Kisah Uwais Al Qarni
BAB V PENUTUP
     A. Kesimpulan
     B. Saran
DAFTAR PUTAKA
LAMPIRAN


5. BAB-BAB

BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA
BAB V PENUTUP

6. SUB-BAB

BAB I PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang
      B. Fokus Penelitian
      C. Tujuan Penelitian
      D. Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     A. Penelitian Terdahulu
     B. Kajian Teori
BAB III METODE PENELITIAN
     A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
     B. Sumber Data
     C. Teknik Pengumpulan Data
     D. Teknik Analisis Data
BAB IV PAPARAN  DAN ANALISIS DATA
     A. Paparan Data
     B. Pembahasan Nilai-Nilai PendidikanAkhlak Pada Kisah Uwais Al Qarni
BAB V PENUTUP
     A. Kesimpulan
     B. Saran

7. KUTIPAN 

1. Pembentukan karakter mulia juga telah dirumuskan dalam undang-undang pendidikan No 20
Tahun 2003 pada bab II pasal 3 (dalam Depdiknas, 2003) "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan".
2. Rovidawati (2017) dengan penelitian berjudul "Nilai-Nilai Pendidikan Birrul Walidain dalam Kisah Uwais Al Qarni" dalam penelitian tersebut nilai pendidikan Birrul Walidain dari Uwais Al Qarni adalah Uwais Al Qarni seorang yang mempunyai kepribadian yang baik, dan tidak pernah menyakiti hati kedua orang tuanya dan juga orang lain. Uwais Al Qarni  selalu berbicara lemah lembut terhadap ibunya, kisah  Uwais Al Qarni ini sendiri dapat dijadikan sebagai gambaran dan pembelajaran bagi setiap anak dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
3. Isti Komariah (2017) dengan penelitian berjudul "Nilai-Nilai PendidikanAkhlak dalam Kisah Uwais Al Qarni (Telaah Hadits Riwayat Muslim)" dalam penelitian tersebut membahas mengenai relevani nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kisah Uwais Al Qarni di dalam hadits Riwayat Muslim bisa menjadi ujung tombak perbaikkan akhlak yang mulai tidak beraturan.Hanya saja permasalahan yang dihadapi semakin kompleks, meskipun dalam kisah telah berbeda zaman dengan sekarang.
4. Menurut Encyclopedia of Real Estate Terms ( dalam Mulyana, 2011:8)  Nilai berasal dari bahasa latin valere atau bahasa Prancis kuno. Disatu sisi,nilai dibicarakan sebagai nilai ekonomi yang disandarkan pada nilai produk, kesejahteraan, dan harga pada hal yang bersifatmaterial. Sementara dilain hal, nilai digunakan untuk mewakili gagasan atau makna yang abstrak dan tak terukur dengan jelas. Nilai yang tak jelas dan sulit diukur antara lain keadilan, kejujuran, kebebasan, kedamaian, dan persamaan (Mulyana, 2011:8).
5.Menurut Syahidin (dalam Rianawati, 2017:27) dalam mengartikan pendidikan sebagai ta'lim, ta'dib  dan tarbiyah  bila merujuk pada istilah Al Quran, kata yang tepat untuk mengartikan pendidikan adalah tarbiyah. Kata tarbiyah diambil dari istilah Al Qur'an berasal dari kata "Rabbi" yang berarti Tuhan. Pendidikan dalam kajian kata tarbiyah  bermakna sebagai proses pemberian arahan terhadap siapapun yang belum mengetahui jalannya. Bimbingan untuk manusia awam untuk mencapai kematangan dan pengarahan bagi manusia yang sudah berpengetahuan (Rianawati, 2017:27).
6. Bandingkan dengan defenisi pendidikan yang diberikan Marimba bahwa pendidikkan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan peserta didik, baik jasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pengertian ini sangat sederhana meskipun secara substansitelah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan.Menurut pengertian ini, pendidikan hanya sebatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik (Kurniawan, 2016:11).
7.Begitu dalam bahasaYunani "akhlak" dipergunakan istilah ethos atau ethikos atau etika yang mengadung arti " Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik". Dan etikaitu adalah sebuah ilmu bukan sebuah ajaran (Zahrudin, 2004:1-3).
8. Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah SAW dan akhlaknya yang baik adalah salah atu penyebab sesoranguntuk dapat masuk surga (Jawas, 2010:7)
9. Demikianlah ukuran akhlak yang baik adalah jika ia sesuai dengan syariat Allah, berhak mendapatkan riha-Nya, dan dalam memegang akhlak yang baik ini sambil memprerhatikan pribadi,keluarga, dan masyarakat sehingga didalamnya terdapat kebaikan dunia dan akhirat (Mahmud, 2004: 36)
10. Pendapat Al Ghazali tentang pendidikan akhlak pada umumnya sejalan dengan tren-tren agama dan etika. Al Ghazali  tidak melupakan masalah-masalah duniawi, ia memberikan ruang pada seitem pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Tetapi dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk masalah-masalah dunia hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagaian hidup dialam akhirat yang lebih utama dan kekal. Pendapat Al Ghazali tersebut  disamping bercorak agamis yang merupakan ciri pesifik pendidikan islam, tempak pula cenderung kepada sisi keruhanian (Iqbal, 2013:187)


8. DAFTAR PUSTAKA


1. Depdiknas.2003. Undang-Undang RI No.20 tahun 2003,tentang sistem pendidikan nasional.
2. Rovidawati. 2017. Nilai Pendidikan Birrul Walidain dalam Kisah Uwais Al Qarni,Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Rairy Banda Aceh.
3. Isti Komariah.2017. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kisah Uwais Al Qarni( Telaah Hadits Riwayat Muslim),Skripsi.Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Salatiga.
4. Rohmat Mulyana.2011.Mengartikulasikan Pendidikan Nilai,ALFABETA.
5. Rianawati.2017.KerjasamaGuru dan Orang Tua dalam Pendidikan Akhlak,Pontianak:TOP Indonesia.
6. Syamsul Kurniawan.2016.Ilmu Pendidikan Islam Sebuah Kajian Kompeenshif,Yogyakarta:Ombak.
7. Zahrudin AR.2004. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
8. Yazid bin Abdul Qadir Jawas.2010. Adab dan akhlak Penuntut Ilmu,  Bogor:Pustaka At-Taqwa
9. Ali Abdul Halim Mahmud.2004.Akhlak Mulia, Jakarta:Gema Insan.
10. Abu Muhammad Iqbal.2013.Konsep Pemikiran Al Ghazali Tentang Pendidikan, Madiun:Jaya Star Nine.


Tanda tangan dan cap dari petugas perpustakaan: 



Minggu, 06 Oktober 2019

Observasi Prinsip dan Penggunaan EYD/PUEBI pada Kain Rentang/Spanduk,banner,papan nama,poster,stiker,dll., dilingkungan masyarakat.

1. Foto: 

Alamat     : Jl. Sultan Abdurrahman 
Waktu      : 2 Oktober 2019 pukul 16.25
Analisis   : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "Waroengk" yang seharusnya diganti menjadi kata "Warung" dan kata "nye" yang seharusnya diganti menjadi "nya".
Sumber    : Buku EYD


2. Foto: 



Alamat    : Jl. Sultan Abdurrahman 
Waktu     :  2 Oktober 2019 pukul 16.27
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "cuma" yang seharusnya diganti menjadi "hanya" serta kata "10 ribuan" yang seharrusnya ditulis " Rp10.000,00."


3.Foto: 


Alamat    : Jl. Sultan Abdurrahman 
Waktu     : 2 Oktober 2019 pukul 16.27
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "cabe" yang seharusnya diganti menjadi "cabai" dan kata "idjo" yang tidak baku dan seharusnya diganti menjadi kata "hijau"
Sumber  : Buku EYD


4.Foto: 



Alamat   : Jl. Sultan Abdurrahman 
Waktu    : 2 Oktober 2019 pukul 16.29
Analisis : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "bu" yang seharusnya diganti menjadi kata "ibu" 
Sumber  : Buku EYD


5. Foto: 


Alamat    : Jl. Dr Wahidin 
Waktu     : 3 Oktober 2019  pukul 17.00
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "qu" yang kata baku sebenarnya yaitu "ku"
Sumber   : Buku EYD


6.Foto: 


Alamat    : Jl. Dr Wahidin 
Waktu     : 3 Oktober 2019  pukul 17.05
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "lapeeer" yang seharusnya diganti menjadi "lapar" kemudian kata "waroeng" yang seharusnya diganti menjadi kata "warung" lalu kata "wueenak" juga tidak baku yang seharusnya diganti menjadi kata "enak" kemudian kata "petooks" juga kata yang formal.
Sumber  : KBBI


7. Foto: 


Alamat   : Jl.H.Rais A.Rachman
Waktu    : 4 Oktober 2019 pukul 15.49
Analisis : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "liat" yang seharusnya kata bakunya "lihat"
Sumber  : Buku EYD


8.Foto:




Alamat    : Jl. Pangeran Natakusuma
Waktu     : 4 Oktober 2019 pukul 16.23
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "selere" yang seharusnya diganti menjadi "selera"
Sumber  : Buku EYD


9.Foto: 


Alamat    : Jl. Pangeran Natakusuma
Waktu     : 4 Oktober 2019 pukul 16.26
Analisis  : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "kwetiaw" yang seharusnya "kwetiau" dan kata nasgor juga sebaiknya tidak disingkat seharusnya ditulis nasi goreng.
Sumber  : KBBI


10. Foto:


Alamat   : Gg. Kayu Manis
Waktu    : 5 Oktober 2019 pukul 16.40
Analisis : Penggunaan kata yang tidak baku yaitu kata "waroeng" yang kata baku seharusnya "warung"
Sumber : Buku EYD


Karakteristik Peserta Didik

Nama : Nurhafiza NIM    : 11901338 Kelas  : PAI 4 E Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, baiklah dengan adanya tulisan ini untuk...